Bagian Keris #7

Rincikan  Keris

Anatomi keris dikenal juga dengan istilah ricikan keris. Berikut ini akan diuraikan anatorni keris satu persatu.

  1. Ron dha, yaitu ornamen pada huruf Jawa dha.
  2. Sraweyan, yaitu dataran yang merendah di belakang sogogwi, di atas ganja.
  3. Bungkul, bentuknya seperti bawang, terletak di tengah-tengah dasar bilah dan di atas ganja.
  4. Pejetan, bentuknya seperti bekas pijatan ibu jari yang terletak di belakang gandik.
  5. Lambe gajah, bentuknya menyerupai bibir gajah. Ada yang rangkap dan Ietaknya menempel pada gandik.
  6. Gandik, berbentuk penebalan agak bulat yang memanjang dan terletak di atas sirah cecak atau ujung ganja.
  7. Kembang kacang, menyerupai belalai gajah dan terletak di gandik bagian atas.
  8. Jalen, menyerupai taji ayam jago yang menempel di gandik.
  9. Greneng, yaitu ornamen berbentuk huruf Jawa dha yang berderet.
  10. Tikel alis, terletak di atas pejetan dan bentuknya mirip alis mata.
  11. Janur, bentuk lingir di antara dua sogokan.
  12. Sogokan depan, bentuk alur dan merupakan kepanjangan dari pejetan.
  13. Sogokan belakang, bentuk alur yang terletak pada bagian belakang.
  14. Pudhak sategal, yaitu sepasang bentuk menajam yang keluar dari bilah bagian kiri dan kanan.
  15. Poyuhan, bentuk yang menebal di ujung sogokan.
  16. Landep, yaitu bagian yang tajam pada bilah keris.
  17. Gusen, terletak di be!akang landep, bentuknya memanjang dari sor-soran sampai pucuk.
  18. Gula milir, bentuk yang meninggi di antara gusen dan kruwingan.
  19. Kruwingan, dataran yang terletak di kiri dan kanan adha-adha.
  20. Adha-adha, penebalan pada pertengahan bilah dari bawah sampal ke atas.

Bagian Keris #6

Tangguh keris

Di bidang perkerisan dikenal pengelompokan yang disebut tangguh yang dapat berarti periode pembuatan atau gaya pembuatan. Hal ini serupa dengan misalnya dengan tari Jawa gaya Yogyakarta dan Surakarta. Pemahaman akan tangguh akan membantu mengenali ciri-ciri fisik suatu keris.

Beberapa tangguh yang biasa dikenal:
•   tangguh Majapahit,
•   tangguh Pajajaran,
•   tangguh Mataram,
•   tangguh Yogyakarta,
•   tangguh Surakarta.



BAgian Keris #5

Pamor

Pamor merupakan hiasan, motif, atau ornamen yang terdapat pada bilah keris. Hiasan ini dibentuk tidak dengan diukir, diserasah (inlay), atau dilapis, tetapi dengan teknik tempaan yang menyatukan beberapa unsur logam berlainan. Teknik tempa senjata berpamor ini merupakan keahlian khas Indonesia, terutama di Jawa.


Dilihat dari caranya, dikenal dua cara pembuatan pamor yang baik, yaitu mlumah dan miring. Pamor mlumah adalah pamor yang lapisan-lapisannya mendatar, sejajar dengan permukaan bilah, sedangkan pada pamor miring lapisan pamornya tegak lurus dengan permukaan bilah. Pembuatan pamor mlumah lebih mudah daripada pamor miring. Itulah sebabnya, nilai keris berpamor miring lebih tinggi dibandingkan dengan pamor mlumah.

Bagian Keris #4

Luk 

Dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. 

Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah, dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal (ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga dan terbanyak adalah luk tiga belas. 

Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija, atau keris tidak lazim.

Bagian Keris #3

Wilah

Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola, pinarak, jamang murub, bungkul, kebo tedan, pudak sitegal.

Pada pangkal wilahan terdapat pesi, yakni ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris (ukiran). Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.

Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (di Semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, di mana ganja sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled, bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, wilut, dungkul, kelap lintah dan sebit rontal mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya.

Bagian Keris #2

Warangka atau sarung keris


Warangka, atau sarung keris (bahasa Banjar: kumpang), adalah komponen keris yang berfungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati, cendana, timoho, dan kemuning). Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi warangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.

Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari: angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri, serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis warangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan warangka ladrang hanya tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.

Aturan pemakaian bentuk warangka ini sudah ditentukan, walau tidak mutlak. Warangka ladrang dipakai untuk upacara resmi, misalnya menghadap raja, penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan warangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) atau di belakang (pinggang belakang).

Dalam peperangan, yang digunakan adalah keris warangka gayaman. Pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena warangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.

Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk warangka. Bagian utama menurut fungsi warangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang (sepanjang wilah keris) yang disebut gandar atau antupan, maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu dengan  dipertimbangkan agar tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran.

Karena fungsi gandar untuk membungkus, sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok. Bagian pendok (lapisan selongsong) inilah yang biasanya diukir sangat indah, dibuat dari logam kuningan, suasa (campuran tembaga emas), perak, emas. Untuk luar Jawa (kalangan raja-raja Bugis, Goa, Palembang, Riau, Bali) pendoknya terbuat dari emas, disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.

Hubungan keris dengan sarungnya secara khusus oleh masyarakat Jawa diartikan secara filosofis sebagai hubungan akrab, menyatu untuk mencapai keharmonisan hidup di dunia. Maka lahirlah filosofi "manunggaling kawula-Gusti", bersatunya abdi dengan rajanya, bersatunya insan kamil dengan Penciptanya, bersatunya rakyat dengan pemimpinnya, sehingga kehidupan selalu aman damai, tenteram, bahagia, sehat sejahtera. Manusia, selain saling menghormati satu dengan yang lain masing-masing, juga harus tahu diri untuk bekarya sesuai dengan porsi dan fungsinya masing-masing secara benar. Namun demikian, makna yang dalam dari tosan aji sebagai karya seni budaya nasional yang mengandung pelbagai aspek dalam kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya, kini terancam perkembangannya karena aspek teknologi sebagai sahabat budayanya kurang diminati ketimbang aspek legenda dan magisnya.

Untuk keris Jawa, menurut bentuknya, pendok ada tiga macam, yaitu: (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya, (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat, serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah. Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).


Bagian Keris #1


Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah mata pisau. Tetapi karena keris memunyai kelengkapan lainnya, yaitu warangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.

Pegangan keris atau hulu keris

Pegangan keris (bahasa Jawa: gaman) ini bermacam-macam motifnya, untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari, pertapa, hutan. Ada pula yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia.

Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau-Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau), Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura, dan Sulu, keris memunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu. Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking (kepala bagian belakang), jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan), weteng, dan bungkul.

Keris

Keris adalah sejenis senjata tikam khas yang berasal dari Nusantara. Berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke-9, bahkan kemungkinan besar telah digunakan sebelum masa tersebut.

Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat rumpun Melayu. Pada masa sekarang, keris umum dikenal di daerah Indonesia (terutama di Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sumatra, sebagian Kalimantan serta Sulawesi), Malaysia, Brunei, Thailand, dan Filipina (khususnya di Mindanao). Di Mindanao, bentuk senjata yang juga disebut keris tidak banyak memiliki kemiripan meski merupakan senjata tikam juga.

Keris memiliki berbagai macam bentuk. Ada yang bilahnya berkelok-kelok (selalu berbilang ganjil) dan ada pula yang berbilah lurus. Orang Jawa menganggap perbedaan bentuk ini memiliki efek esoteris yang berbeda.

 Selain digunakan sebagai senjata, keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supernatural. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.

Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan.

Selain keris, masih terdapat sejumlah senjata tikam lain di wilayah Nusantara, seperti rencong dari Aceh, badik dari Sulawesi, serta kujang dari Jawa Barat. Keris dibedakan dari senjata tikam lain terutama dari bilahnya. Bilah keris tidak dibuat dari logam tunggal yang dicor tetapi merupakan campuran berbagai logam yang berlapis-lapis. Akibat teknik pembuatan ini, keris memiliki kekhasan berupa pamor pada bilahnya.

Tokek Seharga Rumah Mewah

Tokek, cicak besar dari marga Gekko, ternyata banyak dicari orang dan harganya bisa sampai Rp2 miliar atau setara dengan harga satu unit rumah mewah. 

"Itu Rp2 miliar harganya, bukan Rp2 juta," kata Makmuri (45), penjual tokek di Pasar Pramuka, Jakarta, sambil menunjuk ke salah satu koleksi tokek di tokonya.

Makmuri, tokek dengan bobot lima ons sangat langka sehingga dibandrol seharga satu buah mobil mewah atau rumah mewah. Berat seekor tokek rata-rata hanya satu ons.

"Tapi tidak bisa lima ons untuk lima tokek, atau dua tokek, pokoknya laku Rp2 miliar hanya untuk seekor tokek yang berbobot lima ons," kata dia.

Ia menambahkan, harga seekor tokek dengan bobot normal hanya berkisar Rp75 ribu sampai Rp100 ribu.

"Kalau berlaku Rp2 miliar untuk semua jenis tokek mah saya sudah kaya dari dulu," kata dia berkelakar.

Menurut dia, tokek banyak dicari orang untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti gatal-gatal, kurap basah, sesak napas, dan kusta.

"Pelanggan yang membeli ini biasanya paranormal dan orang pinter," kata dia.

Sumber : antaranews.com - 05 Juni 2012

Cara Transaksi Tokek

Begitu banyak orang mengirim SMS maupun dengan telepon langsung berkaitan dengan mau menjual tokek.

Kebanyakan masyarakat tidak mengerti cara menjual tokek, bisa jadi tidak mengerti cara menjualnya dikarenakan tidak ikut punya alias punya orang lain  dari karena mendengar atau katanya, katanya teman saya, atau teman saya punya, atau tetangga saya punya.

Hal inilah yang membuat transaksi seolah menjadi ruwet seperti benang kusut.YAng akibatnya timbul saling curiga antara pihak pembeli dan penjual.

Ada juga yang mau menjual tokek memang kepunyaan sendiri, namun selalu salah dalam cara menjualnya.

Lantas, dimana letak kesalahannya ?

Berikut beberapa SMS yang sering dilakukan :
Aku punya tokek  3 up, berani  berapa ?, atau
Temanku  punya tokek 7 ons, dihargai berapa per ons nya ?, atau
Aku punya tokek ukuran 40 cm, berapa harganya ?
Pak, tokek 3 up  ada 20  ekor,  2,5 up ada  50 ekor, berani dihargai berapa ?

Sms seperti ini jelas salah besar, kenapa. Karena  tokeknya belum kelihatan, tetapi sudah minta harga atau malahan menantang berani berapa.

Jual beli tokek  bukan seperti jual beli narkoba. Semua harus jelas.

Lantas bagaimana seharusnya ?!
Seperti pada umumnya transaksi jual beli, maka barang yang akan dijual tentunya harus ditunjukan lebih dahulu, minimal dalam transaksi online/ tidak langsung, photo barang yang dijual harus diperlihatkan.
Jadi, langkah pertama bila mau menjual tokek :

- Lakukan penimbangan dan lakukan pemotretan (minimal dengan handphone) beserta tanggal pengambilan gambar (minimal ditulis disecarik kertas) dan alat pembanding (minimal botol minuman mineral atau langsung dengan meteran).

- Kirimkan photo tokek ke no. hp. 081 7527 6744 atau 0812 5208 7487 atau ke email broker6810@gmail.com, untuk dipelajari/diamati oleh Pihak Pembeli (Buyer)

- setelah foto diterima, maka pembeli akan menaksir harga yang pantas untuk tokek yang ditawarkan kepada pihak penjual. (dengan catatan masuk kriteria yang dicari, besar kemungkinan harga berubah setelah melihat tokek realnya, bisa naik bisa turun bahkan bisa juga gagal!).

- Jika disetujui maka langkah selanjutnya adalah menentukan tempat transaksi

- Terakhir, persetujuan transaksi dan pembayaran

- SELESAI

Tempat Transaksi

Jual beli adalah sebuah kesepakatan yang disetujui oleh orang-orang yang terlibat langsung di dalamnya.Baik itu mengenai barang yang diperjual belikan, harga barangnya, maupun tempat transaksinya.

Karena carut marutnya perdagangan barang antique/Tokek yang diakibatkan oleh sepak terjang pihak mediator, maka akibatnya kini adalah transaksi tersebut seolah menjadi hal musykil terjadi. Di saat pihak buyer datang ke tempat penjual (turun ke lokasi barang), barang yang di tawarkan jauh dari berita yang di sampaikan (tidak masuk kriteria).

Karna hal tersebut, akhirnya pihak buyer membuat sebuah kebijakan dengan meminta dana jaminan atau Dana Counter, sebagai jaminan kepastian akan barang yang di tawarkan dan perjanjian tertulis di depan notaris mengenai pinalti yang harus ditanggung oleh pihak penjual jika Penjual tidak bisa menunjukan kebenaran barang yang dijualnya. Di mana pinaltinya adalah berupa hangusnya dana counter dan sanksi lainnya.

Sebaliknya jika pihak penjual bisa menunjukan barang yang dijualnya sesuai dengan yang dibutuhkan, maka dana counter-an akan dikembalikan sampai 10 kali lipat, berikut dana tanda jadi dengan kisaran hampir mencapai Rp 500.000.000 sampai dengan Rp 5.000.000.000.
Pembeli akan dikenakan sanksi apabila tidak bisa memenuhi harga yang disepakati maksimum dalam 3 hari, maka tanda jadi akan menjadi milik pihak penjual.

Dengan adanya kebijakan tersebut, semua pihak baik pembeli maupun penjual akan merasa aman dari tindakan-tindakan yang tidak menyenangkan (penpuan).

Jadi, kenapa harus takut kalau memang barang yang ditawarkan benar-benar ada?! 

Cara Memilih Tokek Unggul

  1. Pilih warna tokek secerah mungkin atau tidak ada warna belang atau bergaris-garis pada bagian punggung tokek, ini menandakan tokek tidak gampang stress dan slalu doyan makan hal ini terbukti tokek yang berbobot 3 ons keatas selalu didominasi oleh tokek-tokek berwarna cerah (Tokek warna dasar Hijau dan Merah mendominasi bobot 3 ons keatas). sedangkan tokek bergaris-garis dipunggung biasanya hanya berpostur memanjang namun bobot tetap ringan.
  2. Pilih Bintik totol pada tokek yang timbul / kasar / terlihat menonjol, menandakan tokek yang agresif dan biasanya paling berkuasa diantara kelompoknya. Dan bintik kasar biasanya didominasi oleh tokek jantan.
  3. Pilih postur kepala tokek sebulat mungkin dan tebal (tidak gepeng), tokek yang demikian juga mendominasi dengan bobot 3 ons keatas.
  4. Bagian Ekor terlihat tebal dan kokoh (tidak ramping) tapi bukan tebal karena bekas putus, ekor yang tebal menandakan tokek doyan makan karena cadangan makanan tokek tersimpan pada bagian ekor oleh karena itu tokek dapat bertahan hidup kurang lebih 20 hari tanpa makan.
  5. Pilih tokek bersuara 7 atau 9 kali Konon menurut primbon jawa pemiliknya akan selalu beruntung dan memiliki Rezeki yang berlebih. 
Sumber :tokektrader.blogspot.com

Cara Budidaya Tokek

Boomingnya Tokek membuat harga semakin melangit mungkin dari beberapa teman ingin mencoba membesarkan tokek, ada beberapa tips cara mudah membesarkannya

Ada beberapa cara budidaya tokek ini, tergantung modal yang kita miliki. Kalau modal kita hanya cukup membeli bamboo untuk tempat persembunyian tokek maka bamboo yang telah kita beri lubang tersebut kita masukkan anak tokek yang masih kecil kemudian kita simpan di atas pohon dan biarkan ia memakan serangga yang hinggap di pohon. Resikonya agak sulit di tangkap jika telah besar dan mungkin tokeknya bisa kabur atau diambil orang lain dengan cara dipancing bila dibandingkan dengan tokek yang kita letakkan di dalam rumah-rumahan kawat ram di kebun-kebun atau di tengah-tengah sawah.

Boomingnya Tokek membuat harga semakin melangit mungkin dari beberapa teman ingin mencoba membesarkan tokek, ada beberapa tips cara mudah membesarkannya

Sifat Tokek
  1. Tokek Merupakan Binatang yang tahan lapar, serta tahan cuaca.Jadi kalo tokek gak diberi makan selama 1 minggu ato 2 minggu, itu gak masalah. Atopun dicuaca panas ato dingin itu juga gak masalah.
  2. Tokek Merupakan hewan kanibal.Jadi jika dia kumpul jadi 1 kandang, dan merasa lapar,dia bersifat kanibal.Dia mempunyai pedoman siapa yang kuat dia yang menang, jadi ada hukum rimba di sini. Jadi saran saya 1 kandang 1 tokek. Supaya tidak ada persaingan makanan.
  3. Tokek Gampang Stress.Dan Karena tokek yang gampang stres, maka sekali diletakan dikandang, jangan dipindah pindah lagi baik tokek maupun kandangnya. Tujuannya supaya tokek tidak stres, akibatnya dia akan gak doyan makan. Sebenarya tokek mati, rata rata mengalami stres. Soalnya ketika saya pertama kali banyak yang mati.
  4. Peletakan kandang di tempat yang sesuai.Tempatnya usahakan di luar, kalo bisa dibawah pohon. Tujuanya supaya tetap merasa di alam.
  5. Adaptasi tokek dari ditangkap dan masuk kandang.Biasanya tokek tidak mau makan selama 2 minggu ato bahkan lebih. Tapi jika kandang dibuat dari kayu, adaptasi akan menjadi lebih cepat. Jadi saya sarankan buat kandang dari kayu.
  6. Tujuan memisahkan per kandang.Yaitu supaya tokek tidak bertelur ato berkembang biak. Karena tujuan utama saya yaitu membesarkan bukan membudidayakan.
  7. Untuk ukuran kandang bebas.Syaratnya harus dari kayu, dan agak gelap. Madsutnya gelap semua tertutup kecuali pintu mengunakan kawat streamin. Dan usahakan max 2 ekor tokek dalam 1 kandang. Kalo ditempat saya menggunakan bekas lemari baju dari kayu, saya modif dengan pintu menggunakan kawat streamin.
  8. Untuk makanan.Serangga adalah makanan tokek. Ini akan merangsang tokek menjadi lebih besar. Dalam hal ini bisa menggunakan jangkrik/Kroto sebagai makanan tokek.Untuk peningkatan beberapa ons itu tergantung banyak faktor, usahakan jangan sampai tokek merasa stress itu aja. buat kandang senyaman mungkin.
  9. Cara memegang.Tokek memang agak menakutkan. biasanya memegang posisi dari belakang, dan sasaran kepalanya, jangan ekornya, karena dia akan melepaskan ekornya kalo dipegang, kayak cicak.caranya kalo kegigit, siram mulutnya dengan air hangat ato, alihkan gigitanya dengan benda agak lunak misal kain.
Sumber: tokektrader.blogspot.com

Tokek


Tokek adalah nama umum untuk menyebut cecak besar. Ada banyak jenis tokek, namun istilah tokek secara sempit biasa dipadankan bagi anggota marga Gekko, suku Gekkonidae. Sedangkan tokek dalam bahasa awam umumnya merujuk kepada tokek rumah (Gekko gecko), yang memiiki persebaran luas.

Marga Gekko menyebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara, ke utara hingga Korea dan Jepang, ke timur --melintasi Kepulauan Nusantara dan Filipina-- hingga ke Kepulauan Solomon dan Santa Cruz di Pasifik.

Pengenalan

Cecak yang berukuran sedang hingga besar. Kulit punggung tertutupi oleh sisik-sisik granular, bercampur dengan bintil-bintil yang agak besar. Pupil mata tegak bentuk jorong, dengan tepi yang bergerigi. Jari-jari kaki depan dan belakang tumbuh sempurna, melebar di ujung, terkadang dengan selaput di antara pangkal jari, cakar (kuku) terdapat pada jari-jari sebelah luar, sisi bawah jari dengan sederetan bantalan pelekat (disebut scansor) yang berkembang baik dan tidak berbelah (berbagi). Terdapat pula pori-pori preanal atau preano-femoral, serta bintil post-anal.

Hewan ini kebanyakan aktif di saat senja dan malam hari, meski suara panggilannya kadang-kadang terdengar di siang hari. Tokek tinggal di lubang pepohonan di hutan atau di rekahan batuan atau gua; namun sebagian jenisnya juga beradaptasi dengan lingkungan manusia dan bersifat komensal. Tokek memburu aneka serangga dan invertebrata lain sebagai makanannya, walaupun juga tidak segan memangsa vertebrata lain yang lebih kecil ukurannya. Tokek betina biasanya mengeluarkan sepasang telur, yang disimpan berlekatan di sudut lubang atau dinding. Tempat menyimpan telur ini biasa digunakan berulang kali oleh tokek yang sama.

Spesies :
Sejauh ini tercatat sebanyak 44 spesies yang dianggap valid:
  • Gekko albofasciolatus Günther, 1867
  • Gekko athymus Brown & Alcala, 1962
  • Gekko auriverrucosus Zhou & Liu, 1982
  • Gekko badenii Shcherbak & Nekrasova, 1994
  • Gekko canhi Rösler, Nguyen, van Doan, Ho, Nguyen & Ziegler, 2010
  • Gekko carusadensis Linkem, Siler, Diesmos, Sy & Brown, 2010
  • Gekko chinensis (Gray, 1842)
  • Gekko crombota Brown, Oliveros, Siler & Diesmos, 2008
  • Gekko ernstkelleri Rösler, Siler, Brown, Demegillo & Gaulke, 2006
  • Gekko gecko (Linnaeus, 1758)
  • Gekko gigante Brown & Alcala, 1978
  • Gekko grossmanni Günther, 1994
  • Gekko hokouensis Pope, 1928
  • Gekko japonicus (Schlegel, 1836)
  • Gekko kikuchii (Oshima, 1912)
  • Gekko lauhachindai Panitvong, Sumontha, Konlek & Kunya, 2010
  • Gekko melli (Vogt, 1922)
  • Gekko mindorensis Taylor, 1919
  • Gekko monarchus (Schlegel, 1836)
  • Gekko nuthaphandi Bauer, Sumontha & Pauwels, 2008
  • Gekko palawanensis Taylor, 1925
  • Gekko palmatus Boulenger, 1907
  • Gekko petricolus Taylor, 1962
  • Gekko porosus Taylor, 1922
  • Gekko romblon Brown & Alcala, 1978
  • Gekko rossi Brown, Oliveros, Siler & Diesmos, 2009
  • Gekko russeltraini Ngo, Bauer, Wood & Grismer, 2009
  • Gekko scabridus Liu & Zhou, 1982
  • Gekko scientiadventura Rösler, Ziegler, Vu, Herrmann & Böhme, 2004
  • Gekko shibatai Toda, Sengoku, Hikida & Ota, 2008
  • Gekko siamensis Grossmann & Ulber, 1990
  • Gekko similignum Smith, 1923
  • Gekko smithii Gray, 1842
  • Gekko swinhonis Günther, 1864
  • Gekko taibaiensis Song, 1985
  • Gekko takouensis Ngo & Gamble, 2010
  • Gekko tawaensis Okada, 1956
  • Gekko taylori Ota & Nabhitabhata, 1991
  • Gekko verreauxi Tytler, 1865
  • Gekko vertebralis Toda, Sengoku, Hikida & Ota, 2008
  • Gekko vietnamensis Sang, 2010
  • Gekko vittatus Houttuyn, 1782
  • Gekko wenxiaensis Zhou & Wang, 2008
  • Gekko yakuensis Matsui & Okada, 1968
Sumber : Wikipedia, The Reptile Database: Genus Gekko

Tokek Rumah

Tokek rumah adalah sejenis reptil yang masuk ke dalam golongan cecak besar, suku Gekkonidae. Tokek rumah memiliki nama ilmiah Gekko gecko (Linnaeus, 1758). Istilah tokek dalam bahasa sehari-hari biasanya mengacu kepada hewan ini. Sementara itu, dalam bahasa lain reptil ini disebut sebagai téko atau tekék (Jw.), tokék (Sd.), dan tokay gecko atau tucktoo (Ingg.)

Cecak yang berukuran besar, berkepala besar. Panjang total mencapai 340 mm, hampir setengahnya adalah ekornya.

Dorsal (sisi punggung) kasar, dengan banyak bintil besar-besar. Abu-abu kebiruan sampai kecoklatan, dengan bintik-bintik berwarna merah bata sampai jingga. Ventral (perut, sisi bawah tubuh) abu-abu biru keputihan atau kekuningan. Ekor membulat, dengan enam baris bintil; berbelang-belang.

Jari-jari kaki depan dan belakang dilengkapi dengan bantalan pengisap yang disebut scansor, yang terletak di sisi bawah jari. Gunanya untuk melekat pada permukaan yang licin. Maka, dari sisi atas jari-jari tokek nampak melebar.

Perilaku Tokek

Tokek yang kerap ditemui di pohon-pohon di pekarangan dan di rumah-rumah, terutama di pedesaan dan tepi hutan. Suara teritorialnya yang keras dan khas, tokke ... tokkee ..., menjadi dasar penyebutan namanya dalam berbagai bahasa.

Tokek rumah memangsa aneka serangga, cecak lainnya yang lebih kecil, tikus kecil dan mungkin juga burung kecil. Seperti bangsa cecak lainnya, tokek aktif berburu terutama di malam hari. Terkadang tokek turun pula ke tanah untuk mengejar mangsanya. Di siang hari, tokek bersembunyi di lubang-lubang kayu, lubang batu, atau di sela atap rumah.

Tokek melekatkan telurnya, yang biasanya berjumlah sepasang dan saling berlekatan, di celah-celah lubang pohon; retakan batu; atau jika di rumah, di belakang almari atau di bawah atap. Tempat bertelur ini kerap pula digunakan oleh beberapa tokek secara bersama-sama. Telur menetas setelah dua bulan lebih.

Hewan ini tersebar luas mulai dari India timur, Nepal, Bangladesh, lewat Myanmar, Tiongkok selatan dan timur, Thailand, Semenanjung Malaya dan pulau-pulau di sekitarnya, Sumatra, Jawa, Borneo, Sulawesi, Lombok, Flores, Timor, Aru dan Kepulauan Filipina (Manthey & Grossmann, 1997: 232).

Sumber : Wikipedia

Kisah Keris Empu Gandring

Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, ken Arok. Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang brahmana bernama Lohgawe adalah titisan wisnu. Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para “mpu” (gelar bagi seorang pandai logam yang sangat sakti) pada masa itu. Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi “ditransfer” kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut.

Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut. Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan haris diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat) selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya).

Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan Singhasari yakni: Terbunuhnya Tunggul Ametung. Tunggul Ametung, kepala daerah Tumapel (cikal bakal Singhasari) yang saat itu adalah bawahan dari Kerajaan Kadiri yang saat itu diperintah oleh Kertajaya yang bergelar “Dandang Gendis” (raja terakhir kerajaan ini). Tumapel sendiri adalah pecahan dari sebuah kerajaan besar yang dulunya adalah Kerajaan Jenggala yang dihancurkan Kadiri, dimana kedua-duanya awalnya adalah satu wilayah yang dipimpin oleh Airlangga. Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, Ken Dedes. Ken Arok sendiri saat itu adalah pegawai kepercayaan dari Tunggul Ametung yang sangat dipercaya. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa “barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia”.

Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjanya, yang bernama Kebo Ijo yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya kemana mana untuk menarik perhatian umum. Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo dalam kasus pembunuhan yang dirancang sendiri oleh Ken Arok. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo yang konon, dengan keris pusaka itu.

Terbunuhnya Ken Arok 

Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singhasari. Rupanya kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan ayah Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan. Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka kerajaan yang dimilikinya.

Salah satu pusaka yang dimilikinya adalah keris tanpa sarung buatan Mpu Gandring yang dikenal sebagai Keris Mpu Gandring. Melihat ceceran darah pada keris tersebut, ia merasa ketakutan terlebih lebih terdengar suara ghaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal. Ia ingat kutukan Mpu Gandring yang dibunuhnya, dan serta merta mebantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping. Ia bermaksud memusnahkannya.

Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang. Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan tersebut, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang menurut bahasa sekarang, bertugas sebagai “eksekutor” terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.

Terbunuhnya Anusapati 

Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, namun tidak lama. Karena Tohjaya, Putra Ken Arok dari Ken Umang akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas. Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring tersebut dan langsung membunuhnya di tempat. Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman dimana Anusapati diyakini membunuh Ken Arok.

Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Anusapati. Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidak puasan baik dikalangan rakyat dan bahkan kalangan elit istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, diantaranya Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal. Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh Ranggawuni yang memerintah cukup lama dan

dikatakan adalah masa damai kerajaan Singashari. Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya.

Keris Brojoguno Bisa Menembus Baja Besi

Para kolektor keris pernah menghindari koleksi keris-keris dari jaman Pajang dan Kartasura. Mereka berpendapat tosan aji dari kedua jaman itu ,dianggap kurang baik, karena berasal dari jaman Kraton yang umurnya relatif pendek. Keraton Pajang umurnya hanya 32 tahun (1628-1660) dan Kartasura hanya 75 tahun (1670-1745). Keduanya runtuh karena peperangan. 

Patut dipertanyakan apakah alasan itu lebih didasarkan atas hasil karyanya ataukah oleh sebab filosophy lain. Dalam sejarah memang disebutkan ,selama kedua kerajaan itu berdiri diwarnai dengan banyak peperangan dan kerusuhan. sehingga menyimpulkan hasil karya para empunyapun kurang bagus karena dibuat dalam suasana tidak aman.

Demikian antara lain terungkap dalam sarasehan terbatas Pametri Wiji . Pakar keris KRT Sumosudiro mengatakan, Kerajaan Pajang berdiri sebelum Keraton Mataram. Sedang Kerajaan Kartasura merupakan perpanjangan Kerajaan Mataram. Disebutkan, sepeninggal Sri Susuhunan Amangkurat Agung (Seda Tegalarum) tampuk pemerintahan dipegang oleh puteranya, Pangeran Adipati Anom yang kemudian menjadi Sri Susuhunan Amangkurat II. 

Pusat Kerajaan Mataram, Plered, ketika berhasil direbut dari tangan pemberontak sudah dalam keadaan rusak. Itulah sebabnya keraton dipindah kehutan Wonokerto yang kemudian dijadikan pusat kerajaan dan diberi nama Kartasura Hadiningrat.

Di jaman Pajang dengan Raja Sri Sultan Hadiwijoyo dikenal beberapa orang empu, diantaranya Empu Umyang dan Empu Cublak.

Empu Umyang adalah anak Empu Supa (Sepuh) dari jaman Majapahit. Ki Umyang juga disebut Ki Tundhung Kudus. Disebut demikian karena sewaktu mengabdi kepada Raja Pajang ia diusir dari keraton gara-gara difitnah oleh rekannya Empu Cublak. Di Kudus pembuat keris ini tidak lama, kemudian ia mengabdi ke kerajaan Mataram, bahkan dia diangkat menjadi pemimpin para empu, dan diberi gelar Ki Supa Anom atau lebih kondang disebut Ki Nom.

Karya Empu Umyang banyak dipercaya masyarakat jika digunakan untuk mengkreditkan uang akan menguntungkan. Yang berhutang selalu akan risih karena diganggu oleh dhemit dan thuyul yang bercokol di dalam keris Umyang itu. Keris Umyang ditandai dengan bagian sor-sorannya yang mbekel (buncit) seperti perut Bethara Narada atau ngedhe karena luknya berjalan kekiri, tidak kekanan seperti lazimnya. Namun menurut pakar tayuh keris R. Oesodo, keris Umyang tidak selalu ngedhe. Ada juga keris Umyang yang berluk biasa bahkan ada juga yang berdapur lurus.

Mbah Prawirosudarmo (alm.) paranormal dari sentolo pernah mengingatkan, tidak semua orang bisa memakai keris Umyang. Beliau mengaku sudah beberapa kali kedatangan keturunan orang kaya di Kota gede. Mereka mengeluh kehidupannya terlunta-lunta dan tidak merasa tentram. Menururt pengamatan batin Mbah Prawirosudarmo ternyata mereka menyimpan keris Umyang yang sewaktu orang tuanya selalu diberi sesaji gecoh daging mentah pada waktu-waktu tertentu. Atas sarannya keris warisan orang tuanya itu dilabuh di Laut Kidul meskipun pusaka itu sedah diberi busana yang mewah. Nyatanya setelah hal itu dikerjakan, mereka dapat menjalani kehidupannya dengan baik dan tenteram.

Pada umumnya keris tangguh Pajang memiliki besi mentah, terkesan kurang tempaan Pamornya mubyar (menyala) putih seperti perak. Baja sedang jika berluk, kellokannya terlihat rapat (kekar). Ganja umumnya besar. Sirah cecak juga besar. Tantingannya agak berat, lebih berat dari keris-keris Mataram.

Selain Umyang di jaman Pajang juga dikenal Empu Cublak, Empu Wonogati, Empu Surawangan, Empu Joko Puthut dan Empu Pengasih. Pembuatkeris yang disebut terakhir ini ditandai dengan karyanya yang tidak berpamor.

Berbicara tentang keris tangguh Kartasura, Sumosudiro mengutip uraian M Ng. Wirasukadga dari Keraton Surakarta sbb. : ganja sebit lontar, sirah cecak lancip, badan bilah tebal, dan kau (janggal), besi keropos dan keputihan, pamor mengambang dan mubyar (menyala putih seperti perak) atau tidak berpamor. Gaya keris Kartasura mirip keris Mataram. Pasikutannya nyatriya, terkesan seperti seorang satriya, tetapi kasar. Yang luk umumnya rapat (kekar).
Empu yang terkemuka di jaman itu adalah Empu Brojo (Brojoguno I) yang mengabdi di kraton. Hasil karyanya terkesan sangat keras, bisa menembus uang logam, bahkan konon bisa menembus baju besi (kere waja). Empu lainnya adalah Empu Sentranaya III, Empu Sendhang Warih, Empu Taruwangsa, Empu Japan dan masih banyak lagi. Di jaman Keraton Kartasura telah dibat duplikat keris pusaka Kangjeng Kyai Ageng Maesa Nualr. Tidak jelas apakah KKA Maesa Nular yang dimiliki Keraton Yogyakarta itu asli atau duplikatnya yang dibuat di jaman Kartasura. Menururt catatan keris pusaka itu berdapur Maesa Lajer.

Pada masa itu para empu keraton juga membuat duplikat tombak pusaka Kangjeng Kyai Ageng Pleret. Sewaktu Geger Pacinan tombak inventaris keraton ini diamankan oleh abdidalem Suranata. Namun Pangeran Mangkubumi (kemudian menjadi Sri Sultan HB I) yang melihatnya segera merebutnya. Selanjutnya menjadi milik Keraton Yogyakarta. Apakah yang dilarikan itu tombak yang tulen ataukah tombak yang putran/tiruan..? sulit untuk dijawab, karena hampir tidak mungkin menelitinya.

Empu Dari Zaman Ke Zaman

Dua arti dalam istilah empu, pertama dapat berarti sebutan kehormatan misalnya Empu Sedah atau Empu Panuluh. Arti yang kedua adalah ‘Ahli’ dalam pembuatan ‘Keris’.

Dalam kesempatan ini, Empu yang kami bicarakan adalah seseorang yang ahli dalam pembuatan keris. Dengan tercatatatnya berbagai nama ‘keris’ pastilah ada yang membuat.
Pertama-tama yang harus diketahui adalah tahapan zaman terlahirnya ‘keris’ itu, kemudian meneliti bahan keris, dan ciri khas sistem pembuatan keris. Ilmu untuk kepentingan itu dinamakan ‘Tangguh’.

Dengan ilmu tangguh itu, kita dapat mengenali nama-nama para Empu dan hasil karyanya yang berupa bilahan-bilahan keris, pedang, tombak, dan lain-lainnya.

Adapun pembagian tahapan-tahapan zaman itu adalah sebagai berikut:
  1. Kuno (Budho) tahun 125 M – 1125 M, meliputi kerajaan-kerajaan: Purwacarita, Medang Siwanda, medang Kamulan, Tulisan, Gilingwesi, Mamenang, Penggiling Wiraradya, Kahuripan dan Kediri. 
  2. Madyo Kuno (Kuno Pertengahan) tahun 1126 M – 1250 M, meliputi kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Pajajaran dan Cirebon. 
  3. Sepuh Tengah (Tua Pertengahan) tahun 1251 M – 1459 M,Meliputi Kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Tuban, Madura, Majapahit dan Blambangan.  
  4. Tengahan (Pertengahan) tahun 1460 M – 1613 M, meliputi Kerajaan-kerajaan : Demak, Pajang, Madiun, dan Mataram   
  5. Nom (Muda) tahun 1614 M. Sampai sekarang,meliputi Kerajaan-kerajaan : Kartasura dan Surakarta.
Keris-keris ciptaan Empu itu setiap zaman mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Sehingga para Pendata benda pusaka itu tidak kebingungan.

Ciri khas terletak pada segi garap dan kwalitas besinya. Kwalitas besi merupakan ciri khas yang paling menonjol, sesuai dengan tingkat sistem pengolahan besi pada zaman itu, juga penggunaan bahan ‘Pamor’ yang mempunyai tahapan-tahapan pula. Bahan pamor yang mula-mula dipergunakan batu ‘meteor atau batu bintang’ yang dihancurkan dengan menumbuknya hingga seperti tepung kemudian kita mengenali titanium semacam besi warnanya keputihan seperti perak, besi titanium dipergunakan pula sebagai bahan pamor.

Titanium mempunyai sifat keras dan tidak dapat berkarat, sehingga baik sekali untuk bahan pamor. Sesuai dengan asalnya di Prambanan maka pamor tersebut dinamakan pamor Prambanan.

Keris dengan pamor Prambanan dapat dipastikan bahwa keris tersebut termasuk bertangguh Nom. Karena diketemukannya bahan pamor Prambanan itu pada jaman Kerajaan Mataram Kartasura (1680-1744). Bila kita telah mengetahui tangguhnya suatu keris maka kita lanjutkan dengan menelusuri Empu-Empu penciptanya.

I.  Zaman Tangguh Budho (Kuno) :
  1. Zaman Kerajaan Purwacarita, Empunya adalah: Mpu Hyang Ramadi, Mpu Iskadi, Mpu Sugati, Mpu Mayang, danMpu Sarpadewa. 
  2. Zaman Kerajaan Tulis, Empunya adalah: Mpu Sukmahadi. 
  3. Zaman Kerajaan Medang Kamulan, Empunya adalah: Mpu Bramakedali. 
  4. Zaman Kerajaan Giling Wesi, Empunya adalah: MpuSaptagati dan Mpu Janggita. 
  5. Zaman Kerajaan Wirotho, Empunya adalah Mpu Dewayasa I. 
  6. Zaman Kerajaan Mamenang, Empunya adalah: Mpu Ramayadi. 
  7. Zaman Kerajaan Pengging Wiraradya, Empunya adalah Mpu Gandawisesa, Mpu wareng dan Mpu Gandawijaya. 
  8. Zaman Kerajaan Jenggala, Empunya adalah: Mpu Widusarpa dan Mpu Windudibya.
II. Tangguh Madya Kuno (Kuno Pertengahan)
  1. Zaman Kerajaan Pajajaran Makukuhan, Empunya adalah: Mpu Srikanekaputra, Mpu Welang, Mpu Cindeamoh, Mpu Handayasangkala, Mpu Dewayani, Mpu Anjani, Mpu Marcu kunda, Mpu Gobang, Mpu Kuwung, Mpu Bayuaji, Mpu Damar jati, Mpuni Sumbro, dan Mpu Anjani.
III. Tangguh Sepuh Tengahan (Tua Pertengahan)
  1. Zaman Kerajaan Jenggala, Empunya adalah Mpu Sutapasana. 
  2. Zaman Kerajaan Kediri, Empunya adalah : 
  3. Zaman Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: 
  4. Zaman Tuban/Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: Mpu Kuwung, Mpu Salahito, Mpu Patuguluh, Mpu Demangan, Mpu Dewarasajati, dan Mpu Bekeljati. 
  5. Zaman Madura/Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: Mpu Sriloka, Mpu Kaloka, Mpu Kisa, Mpu Akasa, Mpu Lunglungan dan Mpu Kebolungan. 
  6. Zaman Blambangan/Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: Mpu Bromokendali, Mpu Luwuk, Mpu Kekep, dan Mpu Pitrang.
IV. Tangguh Tengahan (Pertengahan)
  1. Zaman Kerajaan Demak, Empunya adalah: Mpu Joko Supo. 
  2. Zaman Kerajaan Pajang, Empunya adalah Mpu Omyang, Mpu Loo Bang, Mpu Loo Ning, Mpu Cantoka, dan Japan. 
  3. Zaman Kerajaan Mataram, Empunya adalah: Mpu Tundung, Mpu Setrobanyu, Mpu Loo Ning, Mpu Tunggulmaya, Mpu Teposono, Mpu Kithing, Mpu Warih Anom dan Mpu Madrim
V. Tangguh Nom (Muda)
  1. Zaman Kerajaan Kartasura, Empunya adalah: Mpu Luyung I, Mpu Kasub, Mpu Luyung II, Mpu Hastronoyo, Mpu Sendang Warih, Mpu Truwongso, Mpu Luluguno, Mpu Brojoguno I, dan Mpu Brojoguno II. 
  2. Zaman Kerajaan/Kasunanan Surakarta, Empunya : Mpu Brojosentiko, Mpu Mangunmalelo, Mpu R.Ng. Karyosukadgo, Mpu Brojokaryo, Mpu Brojoguno III, Mpu Tirtodongso, Mpu Sutowongso, Mpu Japan I, Mpu Japan II, Mpu Singosijoyo, Mpu Jopomontro, Mpu Joyosukadgo, Mpu Montrowijoyo, Mpu Karyosukadgo I, Mpu Wirosukadgo, Mpu Karyosukadgo II, dan Mpu Karyosukadgo III.


Empu Ki Nom

Seorang empu yang terkenal pada zaman Agung Hanyokrokusumo di Mataram. Beberapa orang tua ahli keris menceritakan bahwa usia Ki Nom memang panjang sekali. Kata mereka, nama Ki Nom atau Pangeran Warih Anom, atau Ki Supo Anom justru adalah gelar dan nama pemberian Sultan Agung sebagai pernyataan kekaguman terhadap panjangnya umur empu yang terkenal awet muda itu.

Konon, umur Empu Ki Nom lebih dari 100 tahun. Jika cerita-cerita mengenai dirinya benat, angka 100 itu masuk akal, karena Ki Nom dilahirkan pada menjelang akhir zaman Majapahit, jadi kira kira tahun 1520 an. Padahal, tatkala Sultan Agung Anyokrokusumo mempersiapkan penyerangan ke Batavia tahu 1626, Ki Nom masih mendapat tugas sebagai salah seorang empu tindih, yang membawahkan 80 orang empu lainnya. Berarti pada saat itu umurnya sudah 104 tahun!

Empu Supo Anom, yang nama kecilnya Jaka Supa sebenarnya adalah anak dari Ki Supa Mandrangi atau Pangeran Sedayu, yang hidup pada akhir zaman Majapahit. Ibunya adalah putri kerabat kraton yang ‘dihadiahkan’ kepada Empu Supa Mandrangi ketika pembuat keris terkenal itu diangkat sebagai pangeran dengan gelar Pangeran Sedayu. (Ada cerita rakyat yang menyebutkan bahwa putri keraton itu bernama Dewi Tatiban). Kakaknya, satu ayah lain ibu, bernama Jaka Sura, juga seorang empu terkenal. Oleh raja Majapahit terakhir Empu Jaka Sura diangkat menjadi adipati di daerah Jenu, sehingga juga dikenal sebagai Empu Adipati Jenu.

Ki Nom sebenarnya hanya singkatan nama atau panggilan bagi Empu Pangeran Warih Anom yang menguasai tanah perdikan (otonomi & bebas pajak) di daerah Sendang. Itulah sebabnya ia juga dipanggil dengan gelar Pangeran Sendang.

Tanda-tanda utama buatan empu Ki Nom adalah: Keris dan tombak buatan Ki Nom selain indah selalu mempunyai penampilan dan yang memberi kesan agung, anggun, mewah, berwibawa.

Ganja buatan Ki Nom, kebanyakan merupakan ganja wilut dan kelap lintah. Sirah cecak-nya montok dan meruncing ujungnya, gulu meled-nya besar dan kokoh.

Ukuran panjang bilahnya sedang, lebarnya juga sedang, tetapi tebalnya lebih dibanding keris buatan Mataram lainnya, terutama dibagian tengah bilah. Bilah buatan Ki Nom selalu berbentuk nggigir lembu. Motif pamornya biasanya rumit, halus, dan rapat serta rapi sekali penempatannya. Besi yang digunakan, dua rupa. Bagian tengah yang bercampur pamor warna besinya hitam keabu-abuan atau hitam keungu-unguan, tetapi dibagian pinggir hitam legam.
Bagian kembang kacang-nya dibuat seperti gelung wayang, tetapi berkesan kokoh, dan kalau diamati dari sisi atas akan tampak ramping. Jalen-nya kecil, lambe gajah-nya pendek. Blumbangan-nya dangkal, penuh dengan pamor. Sogokan-nya juga dangkal dan menyempit ke arah ujung. Janur-nya menyerupai batang lidi.

Salah satu keris adikarya hasil tempaan Ki Nom yang masih dapat disaksikan hingga saat ini adalah keris berdapur Singa Barong yang dijadikan cenderamata lambang persahabatan antara Kasultanan Mataram dengan Kesultanan Jambi. Keris itu bernama Si Ginje, dan saat ini tersimpan di Museum Pusat di Jakarta.(

Empu Modin

Adalah nama lain dari Empu Bekeljati, adalah seorang empu dari daerah Tuban yang hidup pada akhir zaman Majapahit.

Keris hasil karyanya berukuran sedang panjangnya, tetapi agak tebal dan lebar. Dibandingkan dengan keris tangguh Tuban lainnya, karya empu Modin lebih tunduk ke depan. Besinya tampak keras dan kenyal, berwarna keabu-abuan, memberi kesan 'mentah'. Pamor yang sering digunakan adalah Wos Wutah dan Ngulit Semangka.

Keris buatan Empu Modin kebanyakan merupakan keris lurus, dengan dapur Tilam Upih atau Brojol. Kalau membuat keris luk, maka luknya kemba. Kesan penampilan keris itu keras dan lugas.

Pengikut Sunan Bonang

Tentang mengapa Empu Bekeljati kemudian lebih populer dengan sebutan Empu Modin, manuskrip Serat Pratelan Bab Duwung yang ditulis R. Moestopo Pringgohardjo pada tahun 1961, menyebutkan:

Pada saat Empu Bekeljati berkarya, agama Islam baru mulai berkembang di daerah tempat tinggalnya. Yang menjadi pemimpin mesjid Tuban di kala itu adalah Sunan Bonang, yang bukan hanya dikenal sebagai ulama, juga sebagai orang yang memiliki banyak kesaktian.
Empu Bekeljati yang semula beragama Hindu, kemudian menjadi salah seorang pengikut dan murid Sunan Bonang. Karena ketekunannya mempelajari agama, Empu Bekeljati menjadi kesayangan gurunya. Dan, karena lantang suaranya, dan fasih lafalnya, Sunan Bonang lalu menugasi Empu Bekeljati menjadi mua'zin atau penyeru azan. Dalam logat Jawa, kata mua'zin sering diucapkan mua'din, dan lama kelamaan menjadi modin. Begitulah, sejak saat itu Bekeljati lebih dikenal dengan sebutan Empu Modin.

Bagi mereka yang percaya akan tuah, keris buatan Empu Modin dikenal sebagai keris yang memiliki angsar sabar, pemaaf, membuat pemiliknya menjadi luwes dalam pergaulan dan disayang orang sekelilingnya. Selain itu, keris karya Empu Modin juga bisa diharapkan mempermudah pemiliknya mencari rejeki. Walaupun dibuat orang yang sama, ketika masih dikenal sebagai Empu Bekeljati,